Tampilkan postingan dengan label BERITA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BERITA. Tampilkan semua postingan

Jumat, 14 Oktober 2011

Korban Tewas Merapi Berjumlah 116 Orang

http://i.okezone.com/content/2010/11/06/340/390546/gPxuOjizWg.jpg
Jumlah korban tewas akibat letusan Gunung Merapi, menurut data terakhir Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sudah mencapai 116 orang. Jumlah ini tersebar di sejumlah wilayah DIY dan Jawa Tengah.

Sebanyak 104 orang berasal dari Kabupaten Sleman, 7 orang dari Kabupaten Magelang, 2 dari Kabupaten Klaten dan 3 dari Kabupaten Boyolali.

Selain korban tewas, jumlah korban luka juga cukup besar yakni mencapai 218 orang terdiri atas 147 orang di Kabupaten Sleman, 14 orang Kabupaten Magelang, dan 57 orang Kabupaten Klate.

Kepala BNPB Syamsul Maarif mengatakan, jumlah tersebut kemungkinan bertambah karena pihaknya saat ini masih melakukan pendataan. Menurut dia, masih ada beberapa daerah yang luput dari penyisiran tim evakuasi.

Saya masih menggunakan sistem penanganan pengungsian yang telah dirintis oleh pemerintah daerah. Intinya adalah berusaha memenuhi semua kebutuhan pengunsian, ujarnya usai mengikuti rapat kabinet terbatas di Istana Kepresidenan, Gedung Agung, Sabtu (6/11/2010) malam.

Menurut Syamsul, ada dua pokok perhatian penanganan tanggap darurat bencana erupsi Gunung Merapi. Pertama, penanganan wilayah berbahaya dari gunung Merapi, termasuk tempat-tempat yang sudah ditinggalkan penduduk dan kedua penanganan pengungsian.

Untuk mengantisipasi hal ini, pihaknya telah membentuk organisasi tanggap darurat yang mengkordinasikan dua gubernur yaitu Gubernur Daerah IStimewa Yogyakarta (DIY) dan Gubernur Jawa Tengah, TNI dan Kepolisian. Mereka ditempatkan pada titik-titik pengungsian yang membutuhkan.

Pusat Pengendalian Operasional (Pusdalops) BNPB di Yogyakarta juga mencatat gelombang pengungsi yang mencapai 198 ribu orang.

Di kabupaten Sleman pengungsi tercatat sebanyak 56.000 jiwa, Kabupaten Magelang sebanyak 62.000 jiwa, Kota Magelang 2.000 jiwa, Kabupaten Klaten 40.000 jiwa, dan Kabupaten Boyolali 30.000 jiwa. Seluruh pengungsi tersebar di 120 titik pengungsian.(okezone.com)

Aneh Bin Ajaib, Padi Tak Tersentuh Lahar



Warga menyaksikan Kali Gendol yang rata tertutup material letusan Gunung Merapi di Dusun Bonggang, Desa Argomulyo, Kecamatan Cangkringan, Sleman, DI Yogyakarta, Sabtu (6/11/2010).

SLEMAN, KOMPAS.com Hulu Sungai Gendol di wilayah atas Cangkringan, Sleman, yang berjarak sekitar 5 km dari puncak Merapi, berubah menjadi gunungan setelah tertimbun material vulkanik yang dimuntahkan Merapi pada Kamis (4/11/2010) malam.

"Sebelum terimbun, sungai ini lebar dan dalam, kira-kira sedalam 30 meter. Seperti jurang kalau dilihat dari tepi sungai," kata Suwarjo (42), penduduk setempat, yang meninggalkan lokasi pengungsian untuk menengok rumahnya.

Ketika Antara mendatangi lokasi pada Sabtu (6/11/2010) siang dan menyaksikan hulu sungai itu dari jarak 5 meter, Suwarjo berteriak untuk memperingatkan bahwa material itu masih mengandung bara.

Bagi orang luar, bukan penduduk Cangkringan, fenomena sungai Gendol itu mencengangkan. Tak ada tanda-tanda sama sekali bahwa di bawah ribuan ton lahar itu ada sebuah sungai sedalam jurang. Aroma belerang yang menyengat tercium di kawasan berbahaya ini.

Di sekitar hulu sungai terdapat perkampungan penduduk yang sudah mengungsi. Atap rumah-rumah dan daun-daun pepohonan besar tertutupi abu dan pasir.

Kebun salak luluh lantak, porak-poranda. Cangkringan menjadi kawasan mati, dengan kerusakan yang masif.

Kawasan lereng Merapi yang mengalami kehancuran di mana-mana terjadi di Desa Glagaharjo. Sepanjang jalan menuju puncak Merapi, pohon-pohon bertumbangan. Tiang listrik dari beton patah. Tiang besi telepon pun roboh, membuat saluran kabel-kabelnya terburai.

Sejumlah rumah penduduk tampak berantakan. "Hujan pasir campur lahar membuat semuanya seperti ini," kata seorang penduduk setempat yang sedang menengok rumahnya.

Pemadangan di Cangkringan yang mengalami kerusakan di mana-mana itu terasa magis. Semua pohon besar bisa tumbang atau dahan-dahannya patah. Daun-daun pohon kelapa lunglai berwarna coklat kusam setelah tertimpa hujan pasir dan lahar. Perkebunan salak morat-marit. Tanaman jagung hanya tinggal onggokan kusam di pematang.

Namun, hamparan padi yang baru disemai, yang baru setinggi sepuluh senti meter, sama sekali utuh dengan warna kehijauan yang menyegarkan.

"Aneh bin ajaib. Pohon besar bertumbangan. Padi yang baru tumbuh itu seperti tak tersentuh lahar Merapi," komentar seorang yang mengantar Antara memasuki wilayah maut itu.

Pengamatan lapangan di Glagaharjo itu tak berlangsung lama karena seorang relawan yang datang mengingatkan untuk segera menjauh dari puncak Merapi.

Suara hujan angin disertai gelegak seperti air mendidih, yang datang dari perut Merapi itu, semakin menyadarkan bahwa Merapi bisa muntah sewaktu-waktu.

Aktivis-relawan penolong korban Merapi itu seperti mulai mengenal tabiat Merapi. Dia segera menarik pegas motornya dan melaju menjauh dari puncak Merapi. Dia tak mau berpacu melawan kecepatan lahar Merapi yang oleh pakar geologi diibaratkan sekencang mobil Formula Satu itu.

Senin, 25 Juli 2011

Ditemukan, Awan Air Terbesar di Jagad Raya

Para ilmuwan baru-baru ini berhasil menemukan massa air raksasa terbesar dan tertua di jagad raya.
 
Massa air berbentuk awan itu, berusia 12 miliar tahun dan diperkirakan mengandung massa air  yang besarnya 140 triliun kali lipat dari seluruh massa air yang ada di bumi. 
Awan uap air itu dikelilingi oleh sebuah lubang hitam supermasif yang dikenal dengan quasar, berada di lokasi yang berjarak sekitar 12 miliar tahun cahaya dari Bumi.
Seperti dikutip stasiun berita MSNBC, para ilmuwan mengatakan bahwa temuan ini membuktikan bahwa air telah ada sejak awal keberadaan jagad raya 

"Karena cahaya yang kita lihat meninggalkan kuasar itu lebih dari 12 tahun cahaya, kita melihat kehadiran air hanya sekitar 1,6 milar setelah awal dari jagad raya," ujar Alberto Bolatto, salah seorang peneliti dari University of Maryland lewat sebuah pernyataan.
"Penemuan ini menandai keberadaan air semiliar tahun lebih dekat dengan peristiwa dentuman besar," kata Bolatto.

Quasar adalah obyek bercahaya dan paling energetik di alam raya. Kuasar ditenagai oleh lubang hitam besar yang menghisap gas-gas dan debu di sekitarnya lalu memuntahkan energi dalam jumlah ebsar. 

Para tim astronom berhasil mendeteksi dan mengkonfirmasi keberadaan awan air itu di sekeliling quasar, melalui dua teleskop berbeda, satu di Hawaii dan satu lagi di California. 
Peneliti memperkirakan, bahwa uap air itu terbentuk di awal kemunculan alam raya. Jadi, penemuan awan tua ini tida terlalu mengagetkan mereka. "Ini adalah bukti selanjutnya di mana air  meresap ke seluruh alam semesta, bahkan di saat-saat yang sangat awal," ujar pemimpin penulis riset, Matt Bradford, dari Jet Propulsion Laboratory NASA di Pasadena, California.
 
Quasar APM 08279+5255  mengandung uap air yang besarnya 4.000 kali lebih besar daripada galaksi Bima Sakti, kata para peneliti. Hal ini mungkin dikarenakan banyak air di galaksi Bima Sakti yang berwujud es, bukan uap.

Uap air di quasar didistribusikan ke sekitar lubang hitam masif di wilayah yang panjangnya mencakup ratusan tahun cahaya. Awan tersebut memiliki suhu minus 63 derajat Fahrenheit (-17,2 derajat celsius), namun, atmosfer bumi memiliki kepadatan yang 300 triliun kali lebih padat daripada awan tersebut.

Setidaknya, awan itu lima kali lebih panas, dan 10 sampai 100 kali lebih padat daripada apa yang biasa dijumpai di galaksi-galaksi, termasuk Bima Sakti, kata para peneliti. Awan air itu juga mengungkap info penting lain tentang quasar. 

Pengukuran uap air dan molekul-molekul lain seperti karbon monoksida, mengungkap kemungkinan bahwa terdapat jumlah gas yang cukup bagi lubang hitam untuk berkembang hingga sekitar enam kali dari ukuran sebelumnya. Temuan ini akan segera dipublikasikan pada Astrophysical Journal Letters.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More